Sabtu, 31 januari 2026
Tim KKN Tematik 51 ITERA mengadakan pameran hasil kegiatan survei lapangan dan hasil kegiatan art jamming di GSG Mangliawan. Pameran ini dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat desa dari anak anak SD, SMP, SMA, hingga kalangan dewasa. Kami menyediakan pameran batuan yang ada di desa hanura sekaligus mengedukasi keilmuan tentang kondisi geologi pada saat pameran. Kami Mengadakan Lomba mewarnai sebagai wadah menyalurkan bakat seni untuk anak anak desa hanura.
selama ini, kita mungkin hanya melihat batuan di sekitar Desa Hanura sebagai bongkahan material bangunan atau penghias jalan semata. Namun, melalui program kerja “Earth Exhibition”, batuan-batuan tersebut kini “berbicara” dan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.Pameran seni yang mengangkat tema kebumian ini bukan sekadar pajangan. Ini adalah ruang cerita di mana elemen alam Hanura, seperti Vein Kuarsa yang berkilau bak kristal, Tuff Lapili yang menyimpan memori abu vulkanik, hingga Andesit yang kokoh, diangkat menjadi karya seni rupa yang memukau.

Bukan Sekadar Batu, Tapi Identitas
Kegiatan ini lahir dari sebuah kegelisahan: betapa kayanya alam desa kita, namun seringkali terlewati begitu saja oleh pandangan mata. Melalui narasi visual, Earth Exhibition mencoba menjembatani istilah teknis geologi yang kaku menjadi cerita yang mudah dipahami oleh semua lapisan warga. Selama ini, batuan yang tersebar di sepanjang wilayah desa kita mungkin hanya dianggap sebagai benda mati, penghalang jalan, atau sekadar material bangunan kelas dua. Padahal, jika kita mau menilik lebih dalam, setiap bongkahan batu tersebut adalah arsip raksasa yang mencatat sejarah perjalanan bumi di bawah kaki kita. Ada jutaan tahun cerita yang tersimpan dalam tekstur kasarnya dan ada keindahan tersembunyi di balik warnanya yang kusam.
Melalui narasi visual yang apik, Earth Exhibition hadir sebagai jembatan komunikasi. Kami menyadari bahwa istilah-istilah ilmiah dalam dunia geologi seringkali terasa asing, kaku, dan membosankan bagi telinga orang awam. Siapa yang akan peduli pada “proses pembentukan magma” atau “struktur kristalisasi” jika bahasanya terlalu rumit?
Oleh karena itu, pameran ini mencoba meruntuhkan dinding pembatas tersebut. Kami menerjemahkan bahasa teknis geologi yang dingin menjadi sebuah cerita visual yang hangat dan menggugah rasa. Kita tidak hanya diajak melihat batu, tapi diajak mengenal kembali “siapa” itu Vein Kuarsa, bagaimana Tuff Lapili terbentuk dari amukan awan panas masa lalu, hingga mengapa Andesit menjadi simbol kekokohan desa kita.
Dengan penyampaian yang lebih manusiawi dan kreatif, kami berharap setiap lapisan warga—mulai dari anak-anak sekolah hingga orang tua—dapat memahami bahwa tanah yang mereka pijak adalah sebuah mahakarya. Pameran ini adalah upaya kita bersama untuk memulihkan kembali rasa kagum terhadap alam Hanura, mengubah pandangan yang mulanya acuh menjadi rasa bangga yang tumbuh dari dalam hati.

Art Jamming: Saat Warga Menjadi Seniman
Keunikan pameran ini semakin terasa dengan hadirnya sudut Art Jamming dari hasil lukisan karya dari beberapa teman teman KKN tematik 51 ITERA. Di sini, seni tidak lagi milik seniman profesional saja. Hasil lukisan dan ekspresi bebas dari masyarakat Desa Hanura turut dipamerkan, bersanding dengan kemegahan elemen batuan asli.Kolaborasi ini menciptakan harmoni yang indah: perpaduan antara kekayaan material bumi dan imajinasi kreatif para penghuninya. Setiap lukisan di atas kanvas menjadi bukti bahwa kreativitas warga Hanura tidak memiliki batas.

Harapan Besar dari Langkah Kecil
Melalui Earth Exhibition, Desa Hanura diharapkan mulai bertransformasi. Bukan hanya sekadar desa dengan kekayaan geologi, tetapi juga desa yang sadar akan potensi wisata edukasi dan kreativitas mandiri.Pameran ini menjadi sebuah pengingat bagi kita semua: bahwa keindahan tidak perlu dicari jauh-jauh. Ia ada di bawah kaki kita, di dalam batuan-batuan yang membentuk desa kita, dan di dalam semangat kreatif warga yang terus menyala.Mari terus menjaga dan mengapresiasi kekayaan alam Hanura. Karena setiap batu punya cerita, dan setiap kita punya cara untuk menceritakannya.

